
Sebuah Melodi
Hati
(masih tentang Cinta, kali ini
dalam Ayat-Ayat Cinta)
Ree^_^Yie
Mungkin karena
komentar sahabatku Rum, yang secara sepihak aku putuskan sebagai partner dan
pembimbing langsung dan tak langsungku dalam belajar menulis, akhirnya aku putuskan
untuk menguraikan pemikiranku tentang Ayat-Ayat Cinta ini
Sebagai sebuah novel bestseller yang difilmkan tentu ada
nilai lebih dalam Ayat-Ayat Cinta. Pertanyaannya, Apa itu?? Apakah hanya sebuah
euforia kisah-kisah Cinta Islami ??Atau euforia gaya hidup negeri di Timur Tengah, yang
dengan jelas menginspirasi saudari2ku untuk berfoto dengan cadar layaknya tokoh
wanita utama Aisyah?? Atau memang ada suatu nilai lebihnya?? Ayo! bersamaku
kita telaah rahasia di balik kesuksesan novel ini (lebih baik kau membaca dulu,
duhai … ^0^ )
Aku hampir sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa
novel ini hanya menjual mimpi-mimpi lelaki. Hidup sederhana apa adanya, namun
diCintai oleh 4 wanita yang luar biasa, tak hanya cantik tapi memiliki karakter
dan cerita yang unik-unik dan mengagumkan. Hidup sederhana apa adanya, namun diCintai oleh orang-orang
disekitarnya, diperhatikan, dibantu dalam keadaan susah, memiliki sahabat
dimana-mana. Hidup sederhana apa adanya, namun menikah dengan istri yang cantik
bak bidadari, lemah lembut, sholehah dan taat pada suami, cerdas, dewasa namun
bisa bersikap manja dan romantis, harta melimpah yang tak kan habis tujuh turunan dan menCintai dengan sepenuh hati.Jujurlah para lelaki dan kesampingkan sedikit ego kita , siapa
yang tidak mau menjalani hidup seperti ini ???.Sayangnya dalam kehidupan di
bumi, tak semua orang yang hidup sederhana apa adanya bisa menikahi gadis
cantik, pintar dan kaya (too good to be true, Man!). Jadi hampir benarlah
kiranya kalau cerita ini hanya menjual mimpi.
Mungkin memang tidak pantas rasanya kalau novel ini
disebut romantis dan penuh dengan makna perCintaan sepasang kekasih. Cinta
–bagiku- seharusnya berupa aktivitas “aktif” untuk menggapai keagungan Cinta
itu sendiri melalui pergulatan yang melelahkan untuk membuat suatu keputusan
tindakan dan akhirnya dengan penuh kerelaan dan keyakinan melakukannya. Hal
ini, TIDAK tergambar dalam karakter tokoh utamanya. Fachry (lelaki “beruntung
dan hanya dalam mimpi” yang kita bicarakan ini) tidak berbuat begitu banyak
dalam meraih Cinta Aisyah. Tak ada kiriman Surat Cinta penuh pujian (misal : Aisyah, dimataku
kau begitu sempurna dan indah :p) ataupun Bunga Mawar untuk Aisyah. Tak pernah
Fachry harus bercukur, memakai baju mahal, berbicara sok cool dan dewasa (behave maksudnya), atau mengumbar guyon dan
cerita menarik lainnya untuk membuat wanita tertarik. Fachry-pun tak melakukan
apa-apa yang menurut kita disebut –pengorbanan- untuk menikahi Aisyah. Tak ada
kata, perbuatan dan niatpun belum (Ingat, saat itu Fachry memang memiliki
rencana masa depan, namun dia belum berpikir tentang menikah. Menikah merupakan
tawaran yang ia terima dari Gurunya mengaji). Dan tidak adil bukan, ketika
akhirnya Fachry bisa menikahi Aisyah?. MIMPI KALI YEE…! Padahal di atas bumi ini,
ada seseorang yang selama bertahun-tahun
telah berusaha dengan keras untuk menCintai manusia dambaannya, tak terhitung
jumlah pesan Cinta yang ia kirimkan, bunga mawar yang ia berikan, pengorbanan
yang ia lakukan untuk menCintai orang ini dan hanya untuk mendapat
perhatiannya.. (You can love me either
hate me, but please don’t ignore me…). Apakah kamu pernah punya pengalaman
yang sama??? ( Aku doakan kesuksesan untuk semua Pejuang Cinta di atas bumi,
Ayo tetap Berjuang kawan !!!)
Jika memang Mimpi, mengapa begitu banyak orang yang
tertarik? Apa semua orang suka bermimpi?
Dan lebih anehnya lagi, Fachry : tipe lelaki sederhana apa adanya, tidak kaya
dan tidak ganteng (rasanya tidak pernah disebutkan bagaimana perawakan wajah Fachry)
begitu diCintai dan diidam-idamkan para wanita. Dan tak jarang lelakipun
bermimpi dan meniru gayanya Fachry untuk menarik wanita (maaf kawan, entah
mengapa pikiranku selalu negatif dengan lelaki-lelaki seperti ini, just be
yourself dude :p). Adakah memang ini dikarenakan oleh karakter Fachry yang
soleh, taat beragama, pekerja keras, sopan (juga pada wanita) tegas, dewasa,
tidak sombong, rajin, trampil, berwibawa, hemat, cermat dan bersahaja ? (lama-lama
kayak Dasadharma Pramuka nie, hehehe).
Mungkin aku ingin sedikit berbagi tips untuk para lelaki,
bahwa sekarang banyak wanita yang mengidamkan pasangan hidup bukan dari apa
yang terlihat mata tapi apa yang dirasakan hati. Tidak harus menjadi ganteng,
mandi susu, pake minyak rambut berlebih bahkan sampai operasi plastik untuk
menarik perhatian wanita. Karena yang mereka butuhkan sebenarnya adalah uluran
tangan dikala galau dan rapuh menghadapi rintangan, perhatian dan dukungan
dalam menapaki jejak-jejak kehidupan. Toh
tidak hanya kaum hawa saja yang punya istilah inner beauty, tapi kaum lelaki-pun memiliki inner handsome (:p) atau mungkin lebih tepatnya kharisma. Yang
tercermin dalam karakter penuh kemandirian dan kedewasaan. Dan mungkin
karakter-karakter inilah yang sangat terkesan dari tokoh utama kita Fachry yang
membuat sebagian besar pembaca wanita tergila-gila dan terinspirasi. Dan bagi
sahabat-sahabatku yang wanita, yang mulai mencari pasangan hidup bukan
berdasarkan fisik dan materi semata, two thumbs up for you sis! (rasanya aku sedang menceritakan curahan hati
pribadiku semata nie :p)
Namun kawan, jika memang tentang karakter tokoh utama
yang membuatnya bernilai bestseller dan difilmkan, rasanya kharisma
karakter-karakter seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Menurutku banyak
novel-novel tak hanya Islami yang menggambarkan karakter tokoh utama yang
sederhana namun memesona yang tak kalah dengan Fachry. Salah satu tokoh fiksi
kegemaranku adalah Jean Valjean, tokoh utama dalam film Les Miserable yang
disutradarai oleh Bille August . Valjean dalam film ini dikisahkan sebagai
seorang yang berhati jujur dan tulus. Meski ada banyak sekali fitnah dan
kejahatan yang terjadi padanya, dia tidak pernah berusaha untuk membalas,
bahkan di akhir film ini Valjean Sendiri yang memaafkan dan melepaskan orang
yang selalu membencinya, Javert. Tokoh Valjean
ini secara nyata telah menunjukkan padaku bahwa being kind ain’t for fool. Orang baik bukan berarti bodoh dan mudah
diperdaya. Menjadi orang baik itu berat dan butuh komitmen yang berkelanjutan
dan tidak memalukan. Selain itu bagaimana dengan tokoh Minke dalam tetralogi Buru karya Pramoedya Anata Toer? Tokoh ini juga tidak
kalah berkharisma bahkan ada makna-makna nasionalisme dan urat-urat perjuangan
yang tersirat di dalamnya.
Jadi, apakah kita sepakat bahwa cerita dari Ayat-Ayat
Cinta ini masih terlalu mengawang-awang dan penggambaran kharisma tokoh
utamanya yang dewasa dan sederhana masih umum dan tidak terlalu spesial? Jika
memang demikian, lalu apakah yang membuat novel ini begitu menarik dan
digemari?
……………….
Dalam sebuah lamunan panjang meresapi makna cerita
Ayat-Ayat Cinta ini akhirnya aku sampai pada sebuah titik cerah, aha! Buatku
ada satu hal yang lebih dan menarik dalam novel ini. KEYAKINAN! ( ya, deskripsi
pemikiran dan kata-kata tokoh utama yang penuh dengan Keyakinan, sahabatku)
Kuatnya keyakinan ini mempengaruhi watak
dan perilaku para tokoh-tokoh di dalamnya. Dan keyakinan ini kawan, bukan pada
prinsip semata, tapi pada Tuhan. Hanya karena teman-teman satu apartemennya
yakin dengan Cinta Tuhan-lah mereka menjadi pribadi yang sholeh, penolong dan
saling berbagi bagaikan saudara kandung. Hanya karena ingin lebih menjadi
pribadi yang diCintai Tuhan-lah, Aisyah memutuskan untuk memilih Fachry yang ia
yakin bisa menjadi pembimbing dan teman dalam perjalanannya menCinta Tuhan. Dan
karena keyakinan akan segala sesuatu yang ia lakukan diperhatikan oleh
Tuhan-nya maka Fachry melakukan hal-hal yang dianjurkan oleh Tuhan dan menjauhi
larangan-Nya. Setiap pendeskripsian apa yang ada di dalam benak Fachry, selalu
penuh dengan keyakinan untuk semakin mendekatkan diri dengan Cinta Tuhan.
Dalam cerita-cerita fiksi lain yang pernah kubaca, banyak
berisi tentang pemikiran tokoh utama terhadap sesuatu, perkembangan dunia,
watak dunia. Manusia memikirkan manusia. Andrea Hirata menurutku sangat apik
menguraikan hal ini dalam tetraloginya yang dimulai dengan Laskar Pelangi. Bagaimana
Ikal memperhatikan dan mengagumi watak sahabat-sahabatnya, Lintang, Mahar, dll.
Bagaimana Ikal melihat ketidakadilan yang terjadi di depan mata antara Si Kaya
dan Si Miskin, Si Sombong dan Si Lemah. Melalui pemikiran-pemikiran Ikal aku
bisa mengerti bagaimana ia bergaul dengan temannya, bagaimana keadaan sosial di
Pulau Belitong kampung halamannya. Begitupun masterpiece tretalogi Buru milik Pramoedya Ananta Toer yang diawali
dengan Bumi Manusia yang lebih membuatku terkesan dengan penggambaran keadaan
Indonesia di masa kolonialisme belanda,
kompeni .Semuanya bercerita banyak tentang pemikiran mereka terhadap
manusia lain. Perbedaan yang mereka temui dan bagaimana proses menghadapi
perbedaan tersebut. Tapi Fachry tidak. Menurutku, penggambaran pemikiran di
dalam benak Fachry bukan hanya bagaimana manusia memikirkan manusia dan keadaan
di sekitarnya, tapi juga manusia memikirkan Tuhan yang menciptakan dan mengatur
keadaan tersebut. Novel ini menggambarkan bagaimana kehidupan manusia berkomunikasi dan bercengkrama dengan Tuhannya
dalam setiap menit dan detik.
Selama ini menurutku anggapaan orang tentang orang yang
membicarakan ataupun mendiskusikan tentang Tuhan itu seperti sales yang nawarin
dagangan (maap jika menyinggung, ini hanya pendapatku) , Tabu, dihindari.
Menurutku tidak. Mengapa orang lebih suka ngomongin
orang lain untuk membunuh waktu tapi tidak untuk Tuhannya. Aku kurang sepakat
kalau ada yang bilang itu hanya hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya. Menurutku
itu hanyalah sebuat muslihat untuk menyembunyikan kekurangan dan sekidit angkuh
untuk berbagi ilmu dan merasa sudah berkecukupan dengan yang ia miliki. Pembicaraan
tentang Tuhan itu tidak tabu, hanya masalah tempat dan waktu. Mungkin apa yang
membuat orang enggan karena ini masalah keyakinan seseorang. dan setiap orang
punya keyakinan beda, prinsip pandangan hidup beda. Pada umumnya orang
cenderung kurang menerima perbedaan apalagi terhadap sesuatu yang bersifat
prinsipil seperti keyakinan. Adakah karena ia takut kebenaran miliknya salah?
Dan ia akan dipusingkan untuk mencari kebenaran yang lebih benar? Seperti
kebanyakan pelajar yang biasanya menolak untuk mendiskusikan jawaban beberapa
saat setelah selesai ujian, karena takut salah bukan? Sering orang tak bisa
bersatu karena berbeda keyakinan. Kalau ini masalah yakin pada Tuhan yang Esa, Pencipta,
Besar Penyayang, mengapa tetap masih berbeda. Aneh bukan?
Dalam sebuah kelas mengenai globalisasi yang pernah aku
ikuti, dikisahkan sebuah cerita yang menggambarkan tentang definisi dari
globalisasi. Dalam cerita itu, dikisahkan para ilmuwan adalah orang-orang dengan
mata tertutup yang sedang mengitari seekor gajah dan menebak benda apakah itu.
Ilmuwan yang berada di bagian depan dan meraba belalai mengatakan bahwa ini
adalah ular karena dia merasa menyentuh sesuatu yang panjang. Sedangkan ilmuwan
di bagian belakang gajah mengatakan ini adalah bantal karena dia merasa
menyentuh sesuatu yang empuk, kenyal dan lebar. Dan semua ilmuwan itu memiliki
definisi yang berbeda-beda dari seekor gajah. Begitulah orang memandang
globalisasi, tidak ada definisi yang pasti. Ada
yang beranggapan globalisasi sebagai proses perkembangan dunia menuju ke arah global
dimana batas negara semakin memudar adapula yang berpandangan bahwa globalisasi
hanyalah proyek negara maju untuk menyebarkan kapitalnya untuk menguasai negara
miskin sebagai bentuk kolonialisme modern. Dalam sudut pandang budaya,
globalisasi adalah semakin meluasnya budaya-budaya barat, namun ada yang
memandang globalisasi membuat menguatnya identitas lokal untuk melindungi diri
dari kepudaran.
Dan aku ingin meminjam logika gajah dan orang buta untuk
mendefinisikan makna dari sebuah kebenaran tentang Tuhan. Adakah yang bisa
dengan jelas dan pasti menceritakan kebenaran tentang adanya Tuhan dan segala
kekuasaan-Nya atas semesta jagat raya ini? Selama ini perjalanan manusia dalam
mencari kebenaran tentang Tuhan sama seperti ilmuwan buta yang meraba gajah. Berbeda-beda. Ada yang bilang
Tuhan itu begini atau begitu, Tuhan melarang ini menganjurkan itu. Padahal yang
kita maksud itu ya hanya satu, Tuhan Yang Maha Esa. Andai saja satu diantara
orang buta itu adalah kita, apa yang akan kau lakukan kawan? Akankah kau merasa cukup dengan pemikiran yang
engkau miliki sekarang? Atau engkau bahkan sedikit angkuh dengan mengatakan
dirimulah yang paling benar dan yang lainnya sesat? Atau maukah engkau membuka
hati dan pikiran untuk berdiskusi dengan orang lain guna mencapai kebenaran
yang lebih? Bagiku, orang yang yakin akan Tuhan tidak akan pernah merasa cukup
di dalam ilmu karena ia tahu bahwa ciptaan-Nya sedemikian luas dan tak
terhingga. Bagai padi yang semakin berisi semakin merunduk. Menurutku itulah
keyakinan yang bijaksana, keyakinan yang bukan hanya sebuah proses linear namun
berkesinambungan. Dari tidak tahu menjadi tahu lalu yakin dan ada evaluasi dari
keyakinan itu untuk mencapai keyakinan yang mendekati benar. Aku ingat pesan
seorang sahabat, Yakinlah tak ada yang paling benar selain KEBENARAN itu
sendiri. Jangan pernah puas untuk satu jawaban.
Keyakinan juga tak hanya tersirat pada sang tokoh namun
juga si penulis. Membaca tulisan Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa dipanggil
Kang Abik ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah ataupun perilaku si
penulis (sebelum membaca profil di halaman terakhir tentunya). Namun aku bisa
merasakan keyakinannya. Pemahamannya yang mendalam tentang Tuhan dan makna
Cinta. Begitulah yang aku rasakan dalam
membaca sebuah tulisan. Bagiku, tulisan yang menarik adalah tulisan yang
ditulis dengan penuh keyakinan. Menulis itu pekerjaan yang susah dan penuh
dengan pergulatan dalam kesunyian. Maka tulisan yang menarik adalah tulisan
yang bisa memberikan kesan kuat akan keyakinan si penulis . Dan inilah
tantangan terbesarku dalam belajar menulis. Aku suka membaca blog teman-temanku
yang cukup aktif menulis. Ada begitu banyak niat dan kepentingan yang tersirat dalam tulisan-tulisan yang
kubaca. Salah satu tulisan yang menyiratkan kuat keyakinan si penulis adalah
tulisan-tulisan yang ada di blog sahabatku Rum ( http://www.kafe-sophie.blogspot.com/
) aku tertarik dengan keyakinannya akan Cinta yang sebenarnya bukan sesuatu
yang baru namun mungkin sering dilupakan.
Dan inilah yang dibawa Ayat-Ayat Cinta. Sebuah proses
pergulatan pemikiran Cinta manusia pada Tuhan. Kegiatan fisik namun lebih pada
jiwa yang aktif untuk mencapai kebahagiaan dalam Cinta Tuhan. Pengorbanan-pengorbanan,
komitmen-komitmen untuk Tuhan. Bagaimana Fachry melawan teriknya panas matahari
yang seolah-olah membuat meleleh hanya untuk memperbaiki pembacaannya terhadap
Ayat-Ayat Cinta Sang Penyayang. Bagaimana ia berperilaku sopan terhadap
siapapun meski berbeda keyakinan, karena ia yakin mereka semua adalah sama ,
ciptaan Tuhan. Dzat yang Fachry paling Cintai. Sama seperti kita mungkin,
barang-barang milik orang yang kita Cintai akan terasa begitu berharga hingga
kita akan berusaha menjaganya sehingga tidak membuat orang yang kita Cintai
kecewa. Jika kau pernah mengaku begitu rindu pada kekasihmu adakah kau pernah
berkali-kali membaca surat
Cinta pertamanya dan melafazkan huruf demi huruf yang ia tuliskan dengan penuh
penghayatan? Dan setiap kata yang dilafazkan membuat hatimu semakin teriris dan
menambah kerinduan untuk segera berjumpa dengannya? Bagiku, penggambaran
perilaku dan terutama pergulatan di dalam pikiran Fachry sangat mengguncang ruang
pertapaan jiwaku. Jika aku yakin pada Tuhan, Adakah diri ini pernah begitu
rindu pada-Nya melebihi rindu-rindu pada kekasih atau apapun di dunia? Pernahkah
aku memimpikan kebahagiaan yang sangat sejati bersama Tuhan melebihi
kebahagiaan bersama kekasih? Bahkan
dalam mimpipun tak pernah terbersit keinginan terdalam untuk berjumpa
dengan-Nya. Ketika dalam tidurnya Fachry sering bermimpi menbaca Ayat Ayat
Cinta Sang Maha Suci, adakah diri ini pernah bermimpi seperti itu? Kalau dalam 24
jam tidak ada barang 30 menitpun aku sempatkan waktu untuk mengingat keagungan Ayat-Ayat paling romantis
di dunia ini. Pesan Cinta Tuhan pada makhluk-Nya. Fachry membantuku melihat
keyakinan bahwa dalam hidup, ia hanya perlu Cinta Tuhan dan dia akan mendapat
semua Cinta di bumi. Sekali lagi kawan, ini bukan hanya cerita tentang Cinta
manusia pada manusia.
Memang tidak banyak deskripsi tentang Cinta maupun
aktivitasnya yang tergambar dalam novel ini. Namun yang berbeda dari novel
Cinta ini adalah, secara tersirat namun pasti novel ini menggambarkan tentang
siapa yang menciptakan Cinta itu dan meniupkannya dalam ruh kita. Maaf bukan Cupid maksudku, tapi Tuhan. Asal muasal
Cinta. Sebuah kesadaran yang melebihi deskripsi makna Cinta itu sendiri. Dan
menariknya, ini dalam bentuk novel, bukan ceramah agama, buku-buku agama, namun
melalui cerita yang makna ke-Tuhan-annya tersirat dengan lembut dan tidak
memaksa.
Akhirnya, inilah yang kutemukan dalam mencari jawaban
atas pertanyaannya “Apa yang menarik dari Ayat-Ayat Cinta?”. Bagaimana dengan
jawabanmu kawan? Namun, ada satu pertanyaan terakhir yang ingin aku utarakan
namun tak ingin aku coba menjawab, karena bagiku pertanyaan ini mendekati
retoris. Jika memang begitu banyak yang
menyukai novel bestseller yang difilmkan ini, adakah memang mereka merindukan
Cinta Tuhannya? atau hanya ilmuwan buta yang terkena euforia?

NB :
· Saat sedang menulis review ini, aku belum menonton film
Ayat-Ayat Cinta. Dan aku bertanya-tanya akankah filmnya pun menyematkan makna
akan Keyakinan dan keindahannya ini, atau hanya sebuah euforia kisah Cinta gaya Islami yang dikomersialkan?